Pernah menonton film The Butterfly Effect? ini adalah salah satu dari sedikit film yang membuat aku masih mengingatnya dan membuat otak ini mencari tau lebih banyak tentangnya.
Film ini menggambarkan tentang seorang pemuda bernama Evan yang sejak kecil mengidap penyakit hilang ingatan. Dia terkadang tidak ingat apa yang terjadi. Ibunya yang khawatir, karena Evan menunjukkan perilaku yang tidak normal di sekolah, membawanya ke psikiater. Ia khawatir Evan ‘mewarisi’ kegilaan ayahnya (yang dirawat di rumah sakit jiwa). Ternyata tidak ditemukan hal yang aneh pada fisik Evan. Oleh psikiaternya, Evan disuruh menulis buku harian supaya dia tidak melupakan hal-hal yang terjadi. Maka sejak itu Evan mulai menulis buku hariannya. Enam tahun berlalu, Evan yang menginjak remaja bersahabat karib dengan Tommy, Kayleigh (adik Tommy) dan Lenny. Suatu hari mereka bermaksud membuat ‘ledakan’ yang ternyata berakibat fatal bagi persahabatan mereka.
Tujuh tahun kemudian, Evan yang sudah memasuki bangku kuliah, membaca lagi buku harian yang pernah ditulisnya dulu. Selama 7 tahun belakangan ini, ia sudah tidak lagi mengalami hilang ingatan seperti dulu. Kemudian dia melihat masih banyak halaman-halaman kosong di buku hariannya, yang tidak bisa diingat. Maka ia kembali ke kampung halamannya untuk bertanya kepada sahabatnya dulu. Tapi ternyata tidak ada yang mau mengungkit hal tersebut, bahkan Kayleigh lantas bunuh diri setelah bertemu dengannya.
Kemudian Evan pun menyadari bahwa lewat buku hariannya, ia bisa kembali menjadi Evan muda dan mengubah apa yang ia rasa perlu diubah. Hasilnya, ia tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga hidup ketiga sahabatnya, dan ibunya sendiri. Namun apapun yang ia ubah, ternyata bukan kebahagiaan yang diperolehnya. Justru ia semakin frustasi dengan keadaan. Sampai pada puncaknya, ia harus mengambil keputusan, manakah yang benar-benar akan ia ubah, untuk mengembalikan kehidupannya, kekasih, sahabat dan keluarganya.
Teori Butterfly Effect ini pertama di diperkenalkan oleh Edward Norton Lorenz, yang menjadi Profesor di MIT tahun 1962 dalam bidang meteorologi ini menemukan butterfly effect atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di USA memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer (kuliah Fisika Matematika dan komputasi). Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (...,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali. Inilah yang disebut butterfly effect, yaitu kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil (pengabaian angka sekecil 0.000127) menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini, akhirnya melahirkan teori chaos , yang juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal dua maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.
Teori ini sangat mungkin juga cocok bukan hanya pada kasus cuaca saja, tapi juga kehidupan sehari-sehari. Ada sebuah cerita yang aku baca ketika aku masih kecil kalau tidak salah berasal dari China. Seorang raja dan perdana menteri sedang berbincang-bincang di taman kota, secara tidak sengaja perdana menteri menumpahkan cangkir madunya dan membuat setetes madu tumpah dilantai. Setelah perbincangan selesai, setetes madu tadi menarik perhatian seekor cicak. Seekor kucing yang melihat ada cicak dilantai mengejar dan memakan cicak tersebut. Anjing tidak begitu suka dengan kehadiran sang kucing dan kedua binatang ini main kejar-kejaran layaknya film kartun. Sang pemilik kucing merasa tidak terima karena binatang peliharaannya dilukai oleh anjing dan memukulnya dengan gagang sapu. Melihat kaki anjing kesayangannya jalan dengan terpincang-pincang, pemiliknya tanpa basa-basi melabrak pelaku pemukulan terhadap anjingnya. Dari sekedar keributan dua keluarga akhirnya meluas menjadi dua kubu yang sama-sama kuat.
Singkat cerita sebagian dari kota terjadi peperangan yang cukup membuat gerah kerajaan. Raja memerintahkan beberapa pasukan prajurit kerajaan untuk menanggulanginya. sebagian warga yang terlibat peperangan terluka dan beberapa yang meninggal karena aksi dari para prajurit tersebut.
Kedua kubu yang tadinya bermusuhan bersatu untuk menyerang pasukan kerajaan dan akhirnya memunculkan gerakan kudeta. Setelah sekian lama berjuang akhirnya raja terdahulu beserta pemerintahannya tergantikan oleh pemerintahan yang baru.
Walaupun mungkin ini hanya kisah fiksi semata tapi dengan atau tanpa disadari kisah klasik ini berhubungan dengan teori buterfly effect. Setetes madu yang mengotori lantai taman bisa mengakibatkan pergantian rezim dalam suatu negara.
Read More..
Tuesday, November 27, 2007
Butterfly Effect
Posted by Miracle at 3:36 PM 1 comments
Labels: Teory
Subscribe to:
Posts (Atom)